Selasa, 14 Februari 2012

JENIS REAKSI KIMIA


BAB V
PEMBAHASAN
Reaksi kimia adalah suatu proses dimana zat – zat baru yaitu produk / hasil reaksi terbentuk dari beberapa zat aslinya, yang disebut pereaksi. Biasanya suatu reaksi kimia disertai oleh kejadian – kejadian fisis, seperti perubahan warna, pembentukan endapan atau timbulnya gas.
Secara umum dikenal 5 macam reaksi yaitu :
1.      Reaksi kombinasi
Reaksi dua zat atau lebih zat (baik unsur atau senyawa) yang bereaksi membentuk satu hasil reaksi.
Beberapa jenis reaksi kombinasi
a.       Logam + bukan logam       senyawa biner
b.      Bukan logam + oksigen     oksida bukan logam
c.       Oksida logam + air             hidroksida logam (basa)
2.      Reaksi pertukaran
Kebanyakan dari jenis reaksi salah satu pereaksinya adalah logam yang akan menggantikan ion logam lain dari larutan. Contoh :
Fe + CuSO4 → FeSO4  + Cu
3.      Reaksi netralisasi
Reaksi netralisasi terjadi pada suatu asam atau oksida asam bereaksi dengan basa atau oksida basa membentuk garam dan air. Contoh :
Asam + Basa → Garam + Air
4.      Metatesis
Reaksi penggantian ganda, yang mana dua senyawa saling berganti ion atau ikatan untuk membentuk senyawa yang berbeda.
NaCl + AgNO3 → NaNO3 + AgCl
Ciri – ciri terjadinya reaksi :
o   Menghasilkan endapan
o   Menghasilkan perubahan warna
o   Menghasilkan gas / gelembung
o   Perubahan suhu
o   Baunya
Ada empat jenis reaksi yang dilakukan dalam percobaan ini yaitu reaksi kombinasi, reaksi dekomposisi, reaksi substitusi dan reaksi metatesis (penggantian ganda).
Percobaan pertama adalah reaksi kombinasi. Alat dan bahan yang digunakan adalah aluminium foil. Cara kerjanya yaitu aluminium foil dibakar sisinya dengan pembakar spiritus. Sisi yang lainnya dijepit dengan gegep. Setelah dibakar terjadi perubahan pada aluminium foil, dimana terlihat perubahan warna yang menandakan terjadinya reaksi yaitu dari sebelumnya berwarna perak berubah menjadi abu – abu keemasan.
Percobaan kedua adalah reaksi dekomposisi. Alat dan bahan yang digunakan adalah pembakar spiritus, tabung reaksi, gegep, KBrO3 dan KBr dan korek api sebagai penanda terjadinya reaksi. Cara kerjanya adalah masukkan KBrO3 dan KBr dalam masing – masing tabung reaksi secukupnya, lalu dijepit dengan gegep dan kemudian dibakar diatas pembakar spiritus, dinyalakan korek api dan disimpan diatas tabung reaksi dan dilihat apakah terjadi reaksi. Reaksi yang terjadi pada korek api yang disimpan diatas KBrO3, nyala api dari korek api semakin besar, sedangkan KBr menyala seperti biasa saja. Hal ini terjadi akibat KBrO3 tadi bereaksi menghasilkan KBr + O2, dimana O2 inilah yang menyebabkan nyala api lebih membesar dan juga terlihat adanya uap pada tabung reaksi yang membuat sampel terlihat terangkat keatas. Pada KBr tidak terjadi perubahan pada nyala api karena senyawanya tidak mengandung O2.
Percobaan ketiga yaitu reaksi substitusi. Alat dan bahan yang digunakan adalah 6 buah tabung reaksi, Fe + H2SO4, Fe + NaOH, Fe + HCl, Al + H2SO4, Al + NaOH, Al + HCl. Cara kerjanya adalah dimasukkan masing – masing sampel pada tabung reaksi, lalu dikocok dan diamati perubahan yang terjadi. Pada sampel Fe + H2SO4 terjadi perubahan timbul gelembung / gas dan terdapat endapan perak, hal ini terjadi karena Fe + H2SO4 → Fe SO4 + 2H+. Pada sampel  Fe + NaOH tidak terjadi perubahan warna karena Fe + NaOH → Fe(OH)3 + Na+. Pada sampel Fe + HCl terjadi reaksi dilihat dengan adanya gelembung / gas, warnanya berubah menjadi abu – abu dan pada tabung reaksi berubah menjadi panas. Pada sampel Al + H2SO4 terjadi reaksi yaitu ditandai dengan bau menyengat yang keluar dari tabung reaksi. Pada sampel Al + HCl tidak terjadi reaksi apa – apa .
Percobaan keempat yaitu reaksi metatesis. Alat dan bahan yang digunakan adalah 6 tabung reaksi untuk menyimpan sampel dimana sampel yang digunakan adalah HCl + NaOH, FeCl + NaOH, KBr + AgNO3, NaCl + AgNO3, CaCl2 + H2SO4, AgNO3 + HCl, rak tabung reaksi untuk menyimpan tabung reaksi, pipet tetes untuk mengambil dan menyimpan sampel pada tabung reaksi.
Adapun cara kerja dari reaksi metatesis, pertama – tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Diambil 6 btabung reaksi dan masing – masing tabung reaksi diberi label yang bertuliskan berbagai reaksi – reaksi berikut : HCl + NaOH, FeCl + NaOH, KBr + AgNO3, NaCl + AgNO3, CaCl2 + H2SO4 dan  AgNO3 + HCl. Diambil masing – masing sampel diatas dengan menggunakan pipet tetes lalu dimasukkan kedalam masing – masing tabung reaksi. Dan dikocok, lalu didiamkan pada rak tabung reaksi selama beberapa menit dan diamati perubahan yang terjadi, apakah terjadi reaksi atau tidak dan dicatat hasilnya. Hasil yang didapatkan untuk sampel HCl + NaOH tidak terjadi reaksi karena HCl + NaOH → NaCl + air (H2O), pada sampel FeCl + NaOH → Fe(OH)3 + NaCl, pada tabung reaksi berubah menjadi sedikit panas. Pada sampel KBr + AgNO3 terjadi perubahan reaksi ditandai dengan warna menjadi hijau dan terjadi endapan. Reaksi KBr + AgNO3 → KNO3 + AgBr. Pada sampel NaCl + AgNO3 terjadi reaksi ditandai dengan adanya endapan putih dan tabung reaksi terasa panas. Pada sampel NaCl + AgNO3 → NaNO3 + AgCl. Pada sampel CaCl2 + H2SO4 terjadi perubahan reaksi ditandai dengan perubahan warna pada sampel dimana dari bening menjadi putih dan tabung reaksi terasa panas. Pada sampel ini terjadi reaksi CaCl2 + H2SO4 → CaSO4 + 2HCl. Pada sampel AgNO3 + HCl → AgCl + HNO3 tidak terjadi reaksi.
Pada reaksi kombinasi, Aluminium foil setelah dibakar berubah menjadi abu – abu keemasan, hal ini berarti Al sudah bereaksi dengan O2 sehingga menjadi Al2O3 (4Al + 3O2 → 2Al2O3). Hal ini serupa dengan literatur yakni Aluminium foil dibakar akan menghasilkan senyawa baru yaitu Al2O3.
Pada reaksi dekomposisi, untuk amonium karbonat setelah dipanaskan dan diletakkan kertas lakmus dimulut tabung reaksi akan berubah kertas lakmus merah menjadi biru dan juga bau amonia muncul, hal ini menandakan (NH3)2CO2 sudah bereaksi dan berubah menjadi 2NH3 + CO2 dimana NH3 bersifat basa. Untuk KBrO3, nyala api makin membesar ketika dipanaskan. Hal ini berarti KBrO3 terdekomposisi menjadi KBr + O2 sehingga O2 membesarkan nyala api sedangkan pada KBr terdekomposisi menjadi K+ + B- (tidak ada O2).
Pada reaksi substitusi, untuk Fe + H2SO4 terjadi reaksi ditandai dengan gelembung dan ada endapan perak dimana membuktikan Fe + H2SO4 tersubstitusi menjadi FeSO4 + 2 H+ (A + BC → AC + B). Untuk Fe + NaOH ≠ karena Fe tidak bisa mereduksi Na yang ada disebelah kanan. Pada sampel Fe + HCl terjadi perubahan warna menjadi warna abu – abu. Hal ini menandakan bahwa Fe + HCl bereaksi menjadi FeCl3 + H+. Pada sampel Al + H2SO4 terjadi reaksi dilihat dari bau yang menyengat (Al +  H2SO4 → Al2(SO4)3 + 6H+). Pada sampel Al + NaOH → Al(OH)3 + Na+ dilihat dari hasil reaksinya dimana adanya gelembung. Dan pada Al + HCl ≠.
Pada sampel HCl + NaOH, larutan terlihat jernih dan seakan – akan tidak terlihat bereaksi. Hal ini disebabkan karena apabila HCl ditambahkan NaOH maka akan menjadi NaCl + H2O dimana NaCl adalah garam yang larut dalam air sehingga praktikan tidak dapat membedakan apakah sudah terjadi reaksi atau belum. Kita dapat melihat HCl + NaOH bereaksi apabila konsentrasinya 0,6 M maka reaksi yang akan terjadi menyebabkan tabung reaksi panas.
Pada sampel AgNO3 + HCl, larutan terlihat jernih dan seakan – akan tidak terlihat bereaksi. Hal ini disebabkan karena apabila AgNO3 ditambahkan HCl maka akan menjadi AgCl + HNO3 dimana AgCl adalah garam dan HNO3 adalah senyawa asam. Jadi kedua larut sehingga tidak terlihat reaksinya.
            Deret Volta
K, Ba, Ca, Na, Mg, Al, Mn, Zn, Cu, Fe, N, CO, Sn, Pb, H, Cu, Hg, Ag, Pt, dan Au.
Ket : semakin kekanan semakin mudah direduksi dan sukar dioksidasi. Sebaliknya semakin kekiri, semakin mudah dioksidasi dan sukar direduksi.
Tanda – tanda terjadinya reaksi kimia adalah sebagai berikut :
1.      Terjadi perubahan warna
Pada reaksi kimia, reaktan diubah menjadi produk. Perubahan yang terjadi dapat disebabkan adanya pemutusan ikatan – ikatan antar atom reaktan dan pembentukan ikatan baru yang membentuk produk. Untuk memutuskan ikatan diperlukan energi. Untuk membentuk ikatan  yang baru dilepaskan sejumlah energi. Jadi pada reaksi kimia terjadi perubahan energi seperti pada reaksi substitusi dimana Fe + H2SO4 menjadi warna perak. Pada reaksi metatesis yaitu pada sampel KBr + AgNO3 warna menjadi hijau, reaksi kombinasi Alfol dari warna perak menjadi abu- abu keemasan.
2.      Terjadi perubahan suhu
Reaksi kimia yang menghasilkan energi dalam bentuk panas disebut dengan reaksi eksotermia, sedangkan reaksi yang menyerap panas disebut reaksi endotermia. Pada reaksi eksotermis, terjadi perpindahan energi panas dari sistem ke lingkungan. Pada reaksi endotermis terjadi perpindahan energi panas dari lingkungan ke sistem. Seperti pada reaksi substitusi, sampel Fe + HCl, tabung reaksi dirasakan panas, pada reaksi metatesis sampel NaCl + AgNO3, CaCl2 + H2SO4 tabung reaksi dirasakan panas. Hal ini berarti terjadi pengikatan energi yang mengakibatkan tabung reaksi panas / terjadi reaksi (endotermis). Sedangkan pada Al + NaOH tabung reaksi dingin, hal ini berarti terjadi proses eksotermis.
3.      Terjadi endapan
Ketika mereaksikan dua larutan dalam sebuah tabung reaksi, kadang – kadang terbentuk suatu senyawa yang tidak larut, berbentuk padat, dan terpisah larutannya. Padatan itu disebut dengan endapan (prespitat) seperti pada reksi substitusi yaitu pada sampel Fe + H2SO4 terdapat endapan, pada sampel KBr + AgNO3 terdapat endapan.
4.      Terjadi pembentukan gas
Secara sederhana, dalam reaksi kimia adanya gas yang berbentuk ditunjukkan dengan adanya gelembung – gelembung dalam larutan yang direaksikan. Adanya gas dapat diketahui dari baunya yang khas seperti pada reaksi substitusi yaitu pada sampel Fe + H2SO4, pada sampel Fe + HCl, pada sampel Al + NaOH dan Al +  H2SO4.

Adapun kesalahan – kesalahan yang sering digunakan dalam percobaan adalah kesalahan dalam pemasukan jumlah sampel contohnya pada reaksi metatesis sampel dimasukkan adalah 1 : 1, kesalahan pengamat yang kurang teliti dalam melihat perubahan reaksi yang terjadi
Adapun hubungan jenis – jenis reaksi kimia dengan farmasi yaitu dalam pembuatan obat – obat sintetik seperti yang kita ketahui bahwa sumber daya alam sekarang ini sudah menipis, sehingga diciptakanlah obat sintetis dimana obat tersebut adalah hasil reaksi senyawa – senyawa yang menghasilkan senyawa baru yang digunakan sebagai obat dan adapun  setelah dikonsumsi, obat tersebut akan bereaksi dalam tubuh dengan cara gugus – gugus yang ada pada obat akan diterima oleh reseptor, kemudian akan berefek pada sumber rasa sakit.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar